Baiat

961

BAIAT

Amir Tikwan Raya Siregar

“Bismillahirrahmanirrahim. Kepada hamba Allah, Fulan, Amir al-Muslimin. Assalamu ‘alaykum. Saya memuji Allah untukmu. Tiada tuhan selain Dia. Saya menyatakan hak Anda atas pendengaran dan kesetiaan saya menurut Sunnah Allah dan Sunnah Rasulullah, semampu saya”.

Itu adalah bunyi baiat yang standar. Menurut sunnah yang diamalkan para sahabat, tabi’in, dan tabiit tabi’in.

Bunyinya indah dan kokoh. Tidak ada kegenitan bahasa di sana. Sederhana saja. Dan tidak pula aneh. Sangat biasa bagi Muslimin di masanya. Bahkan menjadi tren. Karena pernyataan kesetiaan ini kemudian diikuti syarikat-syarikat tradisional di Eropa, terutama di Italia. Organisasi mafia juga melakukan ritual ini.

Bedanya dengan syarikat moderen (negara), sumpah setia justru dilakukan oleh seorang pemimpin kepada suatu benda/institusi mati, yaitu konstitusi atau state. Bukan kepada seseorang yang hidup, yang memiliki hati nurani, dan memiliki kemampuan untuk membaca tanda-tanda (petunjuk).

Salah satu keberhasilan propaganda Islamophobia adalah pada berkembangnya kecurigaan dan rasa risih pada baiat ini. Seolah-olah hal ini identik dengan suatu persekutuan yang melakukan ritual berbahaya, tertutup, dan rahasia. Yang sesungguhnya, Aceh dan kesultanan-kesultanan di Nusantara (atau apapun nama yang cocok untuk wilayah ini) membaiat dan mengejar baiat itu ke Turki Utsmani. Bukan karena dipaksa, tapi karena cinta dan persaudaraan semata.

Saya mengerti dengan perasaan Anda apabila merasa aneh dan bergidik dengan kata baiat ini. Karena sejujurnya saya pun demikian pada mulanya. Mungkin persepsi saya lebih parah lagi. Rasionalisme pernah menggerogoti saya sampai ke tahap kronis, dan saya merasa bahwa satu-satunya yang bisa menyelamatkan saya adalah pikiran saya. Andalan saya hanyalah aktivitas berpikir saja.

Sampai akhirnya bangunan rasionalisme itu runtuh atau diruntuhkan oleh sesuatu yang lebih penting, sebuah cara hidup baru, yang bagi saya adalah penemuan terpenting dari seluruh upaya pencarian yang saya lakukan.

Setahun lalu, di halaman depan Vineyard Cafe di Cape Town, Afrika Selatan, pada pertemuan tahunan yang dinantikan para murid Shaykh Abdalqadir as-Sufi, saya menggenggam tangan Amir Zaim Saidi, disaksikan Putre Penyangge Mangkunegeri Tanjung Pura Darussalam, Ketapang, Kalbar, saya mengucapkan baiat itu. Dada saya bergetar, entah takut, entah takjub.

Setelah itu, Amir Zaim memeluk saya, mencium pipi saya seperti Bapak kepada anaknya.

Lalu saya berharap sesuatu akan terjadi. Tapi tidak ada yang terjadi. Sungai dan kura-kura di hutan kecil di lembah itu sama-sama bergerak lamban. Saya dengar Wazir Yasir berdiri, lalu mengucapkan pujian kepada Allah, “Allahu Akbar”. Kemudian ia melanjutkan merokok dan menghabiskan sisa kopinya.

Peristiwa ini biasa sekali, dan setiap Muslim harusnya tahu. Agar tidak hidup dalam keadaan terputus, sendiri, tapi ramai. Atau dalam istilah moderennya, individualisme. Menjadi makhluk yang dilucuti, dan gampang diterkam sepi, dan terinjak-injak dalam ramai.

Wallahu a’lam.