Egalitariannya Pemerintahan Kesultanan Gowa

811

Oleh Prof Ryaas Rasyid

Kerajaan Gowa abad ke 14-17 sangat egaliter. Raja tidak punya Istana. Hanya rumah panggung dikelilingi rumah-rumah para bangsawan dan pengawal.

Perdagangan terbuka dan bebas. Makassar jadi bandar yang ramai oleh pedagang Eropa, China, dan Melayu. Orang-orang Gowa berdagang ke Ternate, Nusa Tenggara Barat dan Timur, Buton, Tomini, Gorontalo dan seluruh Sulawesi tanpa menduduki apalagi menguasai wilayah-wilayah itu.

Kerajaan Gowa tidak ekspansif, tidak memperluas wilayah kerajaan ke tetangganya. Perang dengan Belanda di Maluku Utara dan Buton terjadi karena Belanda memaksakan kehendak ke rakyat dan mau memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Kata-kata Sultan Hasanuddin yang dikutip dalam disertasi Barbara S. Harvey (pernah jadi Wakil Dubes Amerika di Jakarta), ketika Belanda melarang pedagang Makassar berlayar masuk ke Ternate adalah: “Atas dasar kekuasaan apa Belanda bisa melarang kita mengarungi lautan ciptaan Allah yang diperuntukkan bagi semua manusia?”

Pada waktu Hasanuddin kalah perang melawan Belanda, dalam perjanjian Bungaya kedua (1669) ada pasal yang memerintahkan 2000 warga Denmark (Danish) keluar dari Makassar. Artinya di abad ke 17 sudah ada 2000 orang Danish bermukim dan berdagang di Makassar. Belum terhitung ratusan penasehat militer Portugis yang membantu pasukan Hasanuddin membuat benteng-benteng, meriam-meriam, dan berbagai senjata.

Perang. Makassar, menurut Admiral Speelman, adalah perang paling berat yang pernah dihadapi oleh Belanda di masa itu. Speelman yangg memberi gelar kepada musuhnya (Hasanuddin) sebagai Het Hantje van Het Oosten, Ayam Jantan Dari Timur. Dalam perang di tiga malam terakhir sebelum jatuhnya benteng Somba Opu, menurut catatan Speelman, pasukan Belanda menembakkan tidak kurang dari 100 ribu butir peluru. Ini suatu jumlah yangg luar biasa (waktu itu belum ada senjata otomatis).

Sewaktu Hasanuddin mau tanda tangan perjanjian damai, penguasa Wajo, Arungmatoa Wajo, orang setia Hasanuddin, bilang ke Hasanuddin: “Jangan menyerah, Wajo masih punya 10 ribu pasukan. Biar mereka mati dulu semua baru kita menyerah.”

Tapi Hasanuddin menolak. Dia tahu korban sudah terlalu banyak. Kalau Hasanuddin adalah seorang raja yg memperbudak rakyatnya atau jauh dari rakyatnya, mungkin dia teruskan peperangan. Sikap ini yang membuat dia sangat dihormati Belanda. Waktu perjanjian Bungaya dibahas, Hasanuddin menggunakan bahasa Portugis, padahal dia bisa berbahasa Belanda.

Ilustrasi tetang kerajaan Gowa bisa menjadi contoh kerajaan yang tidak otoriter. Bahkan secara intelektual luar biasa kebebasannya. Kerajaan itu sudah membeli teropong bintang dari Eropa hanya selang kurang dari 10 tahun setelah Galileo menciptakannya. Karaeng Pattingalloang, bangsawan Gowa abad ke 16 sudah berbicara dalam Sembilan bahasa-bahasa Eeropa. Kehebatannya bisa dibaca di koleksi perpustakaan universitas Leiden sekarang.

Sejak tahun 2000 nama Karaeng Pattingalloang saya patrikan sebagai nama yayasan yang saya bangun di Gowa, yang salah satu aktivitasnya ada di perpustakaan umum yang saya persembahkan ke masyarakat Gowa.

Itu semua karena kepribadian raja dan sistemnya. Raja Gowa itu dipilih oleh sembilan orang anggota dewan kerajaan (Bate Salapang) yangg masing-masing adalah penguasa wilayah. Jadi ibaratnya, raja dipilih oleh para gubenur yang juga adalah anggota Dewan Kerajaan. Saat raja dilantik, seorang yang mewakili rakyat bersumpah setia kepada raja dengan suara lantang (Anngaru).

Inti sumpah itu, “Hari ini kamu kami angkat sebagai raja. Engkaulah yang menentukan apa yang harus kami lakukan untuk kerajaan. Silahkan beri perintah, kami akan melaksanakannya. Kami bersumpah akan setia dan taat kepadamu. Dengan syarat, perintahmu benar dan adil. Kami akan menolak perintah yang salah dan tidak adil. Kamu sebagai raja memiliki kuasa atas semua milik kerajaan, tapi jangan ambil milik kami dan jangan ganggu isteri-istri kami. Dst.”

Sultan-Hasanuddin1

Sumpah itu disaksikan oleh orang banyak dalam suatu upacara besar di lapangan terbuka. Dalam sejarah Kerajaan Gowa, pernah ada seorang raja yangg dimakzulkan karena berlaku tidak adil, dan seorang raja lainnya dibunuh ramai-ramai oleh rakyat atas persetujuan Dewan Kerajaan karena raja itu berlaku zalim kepada rakyatnya.

Ini semua tertulis dalam sejarah.