Inilah Jihad Zaman Ini

785

Oleh Shaykh Dr Abdalqadir as-Sufi

Ini sangat penting! Anda jangan   berpikir bahwa dunia ilmiah adalah dunia fakta. Anda harus memahami bahwa di balik teknologi adalah sebuah pemikiran, adalah filsafat. Filosofi ini tidak tegak, juga tidak  diverifikasi di abad terakhir ini. Para filsuf metode ilmiah telah dalam  krisis. Dasar-dasar berpikir ilmiah telah runtuh. Ini yang  tidak mereka ajarkan pada   Anda di universitas-universitas.

Putrajaya, 31Julai 2001 -Syaikh Abdulqadir as-Sufi, menunjukkan matawang dinar selepas sidang akhbar di Putrajaya - gambar UTUSAN/Saiful Nizam Bahari NOTA: IMAGEFOLDER 31/Julai/2001
Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi

Mereka telah mencerabut  orang-orang yang mengetahui hal itu dan menempatkan mereka di tempat khusus. Mereka seperti kaum khass [sedikit  orang terkemuka], dan mereka telah dianugerahi  bahasa yang para ilmuwan sekarang tidak bisa mengerti. Semua orang yang mempelajari ilmu  ibarat  orang yang memperbaiki sebuah mobil. Para spesialis filsafat ini duduk di sudut dan berkata, “Tidak ada persediaan bensin. Mobil tidak akan jalan.” Dunia pendidikan yang kini ada seragam di Maroko, Aljazair, Afrika Selatan, dan Australia – di mana-mana – telah membagi ilmu menjadi beberapa bagian.

Dunia Tak Masuk Akal

Ekonom hanya memahami ekonomi. Fisikawan memahami fisika. Psikolog memahami psikologi. Tapi mereka tidak bisa berbicara satu sama lain dan mereka tidak memahami dunia. Yang dikatakan para ahli biologi disangkal dalam bahasa para   filsuf. Apa yang filsuf katakan disangkal  oleh para psikolog. Apa yang dikatakan para psikolog disangkal oleh para  ekonom. Mereka hidup di dunia yang tidak masuk akal. Hari ini kita telah mencapai titik di mana dunia sosial, dunia politik, dengan logika sendiri telah menuju sistem satu-dunia. Semua pesawat memiliki sistem yang sama, jaringan listrik memiliki sistem yang sama. Jika Anda memiliki gangguan mental, jika Anda menjadi gila, kita akan menggunakan sistem yang sama, seperti sebuah mesin,  untuk memperlakukan Anda. Semuanya bekerja secara seragam,  di mana-mana.

Kufur, adalah sebuah sistem yang melemahkan orang. Sistem ekonomi merupakan bencana bagi masyarakat, secara internal maupun eksternal. Tugas kita bukanlah untuk melawan sistem ekonomi tetapi untuk keluar darinya, sebelum bencana  jatuh di atas kita. Dengan keluar dari situ Anda juga aktif membantu mempercepat keruntuhannya. Untuk melakukan ini kita harus melihat hal-hal dengan cara yang berbeda: berpikir secara berbeda dan berperilaku berbeda.

Dalam hal ini, Islam adalah kebalikan dari “makhluk  ekonomi”. Makhluk ekonomi – orang yang hidup dalam pola yang diberikan oleh sistem ekonomi – dilatih untuk berpikir sebagai pengamat mutlak (subyek) yang melihat keluar pada dunia (obyek). Ini adalah dasar dari filsafat barat tradisional di mana ilmu pengetahuan modern dan ekonomi didasarkan. Dengan  dasar ini, makhluk  ekonomi berpikir bahwa riba adalah masalah ekonomis dengan beberapa jawaban yang ekonomis pula. Dia mungkin punya pertanyaan, bagaimana saya bisa memerangi masalah riba?

Dalam cara mempertanyakan ini diasumsikan bahwa riba adalah sesuatu di luar sana, sementara si penanya  berada dalam gelembung plastik terisolasi darinya, tapi ini bukan bagaimana hal sesungguhnya. Si penanya  secara aktif berpartisipasi dalam riba, yang dia pikir sebagai  masalah, namun ia sendiri adalah bagian dari masalah. Dia adalah masalah. Tanpa pengakuan ini Anda  akan bertempur melawan  ilusi Anda sendiri.

Pentingnya Ikhsan

Pengakuan ini memiliki penjelasan dalam pengetahuan tentang Ihsan, yang membuat  kita dapat memahami bahwa kita bukan pengamat dunia, kita bukan pengukur  dunia tetapi kitalah yang  sedang diamati. Allah mengamati kita. Dia adalah Sang Pengukur, bukan kita. Hanya dengan landasan  ini  kita bisa memahami tanggung jawab kita, ketimbang  melarikan diri darinya. Hanya dengan demikian kita bisa menjadi tuan dari situasi  kita, bukan budak dari situasi  kita.
Kita  memahami bahwa tidak ada sesuatu pun yang akan menghentikan kita dari menyingkirkan praktek riba, kecuali diri kita sendiri. Kemudian pertanyaan “Bagaimana cara memerangi riba?” harus diganti dengan “Bagaimana seharusnya kita mengubah perilaku kita sehingga kita tidak perlu riba lagi?” Jika kita berpikir dengan cara ini kita berada dalam posisi yang lebih baik untuk menyarankan jawaban yang tepat. Saat ini perilaku kita sendiri menuntut keberadaan bank dan sistem moneter mereka.

Oleh karena itu jika kita membuang bank-bank riba tetapi terus berperilaku dalam cara yang sama, kita hanya  akan berakhir dengan  menciptakan sebuah bank. Tidak ada yang akan berubah bila kita menyebutnya sebagai “bank syariah” sekalipun. Kita harus mengubah perilaku kita. Untuk melakukan itu kita harus berpikir secara berbeda. Dan untuk berpikir secara berbeda kita harus mengingkari bahwa karakteristik utama dari manusia adalah karakteristik ekonomi. Kita bukan unit-unit ekonomi.

Kita menyangkal apa yang Islam sangkal. Kita menyangkal praktek riba dari ekonomi modern dan kita menyangkal cara berfikir yang mereka sebut Ekonomi itu. Kita menyangkal sistem perbankan dan sistem uang kertas. Kita menyangkal sifat administratif  negara.

Kita nyatakan berakhirnya ekonomi berdasarkan dua afirmasi: perdagangan tanpa riba, dan pemerintah tanpa negara.

Kita  menyerukan orang-orang  merdeka  untuk secara  bebas  berperilaku dalam kerangka hukum kita. Kita akan menciptakan sebuah masyarakat yang berbeda bentuknya. Masyarakat di mana Qirad merupakan sebuah kelaziman, tanpa bank atau adanya kebutuhan akan bank. Itu adalah masyarakat dengan agen – perwakilan, bukan bank, tapi agen. Para agen membawa orang bersama-sama, tanpa mereka sendiri terlibat membentuk sebuah institusi. Mereka mempertemukan  satu orang dengan orang lain untuk membuat bisnis.

Agen itu ibarat mak comblang  di desa yang mengatakan anak muda ini dapat menikahi wanita muda itu, dan mengatur pernikahan. Tanpa dia pernikahan tidak akan pernah terjadi. Para agen yang ada di tengah-tengah masyarakat, membentuk sebuah bagian organik dari itu, membawa orang yang mereka kenal bersama-sama dan belum tentu demi mencari uang. Kekayaan agen adalah kejujuran dan reputasi yang baik. Dia bersaing dalam kejujuran dengan yang lain. Yang terbaik dari mereka adalah orang yang lebih jujur, karena itu lebih banyak orang akan mepercayakan kepadanya kekayaan mereka. Maka dia tidak perlu pergi kepada orang-orang tetapi orang-orang datang kepadanya.

Pengetahuan tentang Allah-lah yang akan mencegah seorang agen dari menjadi robot seperti ‘manusia ekonomi’ itu. Saat ini adalah masa  di mana ada orang, beberapa dari mereka adalah Muslim, menganggap dirinya sebagai penganggur. ‘Menanggur atau bekerja’ adalah pengkondisian ekonomi. Muslim tidak sepatutnya menganggap dirinya dalam kategori ini. Kita melampaui itu karena kita memiliki pengetahuan.

Kaum Muslim menggunakan metafora ini untuk menjelaskan suatu pengetahuan: “Manusia ibarat  seekor semut yang begitu dekat dengan selembar  karpet sampai-sampai ia tidak dapat melihat desain karpetnya”.  Pengetahuan mengangkat kita  dari karpet, dan karpet itu adalah dunya.

Orang yang ‘menganggur atau bekerja’ secara rohani begitu dekat dengan  karpet,  yang menemukan dirinya cuma antara dua pilihan entah sama sekali tidak berguna atau membutuhkan gaji dari  beberapa usaha dalam sistem riba saat ini. Semua bisnis hari ini bergelimang dengan riba, karena  mereka semua dipaksa untuk berurusan dengan  uang kertas riba, yaitu uang-ciptaan-bank. Kalaupun, misalnya,  dia tahu bahwa bank  itu tidak baik, tetapi ia berpikir bahwa ia tidak memiliki pilihan yang lebih baik. Dia bekerja untuk negara, meskipun dia tahu negara adalah kriminal. Bahkan para pengusaha yang mereguk  keuntungan dalam sistem  riba adalah seorang budak. Semua orang telah gagal untuk memahami sifat dunya dan mereka adalah hambanya. Cara untuk keluar darinya  terletak pada  Islam. Kita perlu Islam yang paling murni.

Dan  ini, demi Allah, ada di tangan kaum muslimin. Jihad  di zaman  kita kini adalah menghapuskan riba.

Ini adalah cara yang mudah dan jalan menuju kesuksesan. Sukses adalah milik Allah.