Mati dan Bangkitnya Peradaban

813

Oleh Tikwan Raya Siregar

Sifat peradaban manusia adalah merosot dari sebelumnya. Akhir kemerosotan ini adalah kematian sebuah peradaban, yang disusul kelahiran peradaban baru.

One world dying, another being born” (Shaykh Abdalqadir as-Sufi)

Bagaimana cara kematian sebuah peradaban, dan bagaimana kelahiran yang baru?

Kemerosotan bisa berlangsung puluhan sampai ratusan tahun, hingga terjadi pembusukan, yaitu ketika antioksidan peradaban itu makin lemah. Orang mengira teknologi dan cara hidup mereka makin maju, padahal mereka makin dekat ke jurang yang mereka gali sendiri, hingga akhirnya terperosok dan membusuk di dalamnya.

Setiap satu peradaban mati, maka mereka akan digantikan oleh umat yang lebih baik, di bawah supervisi seorang pembawa cahaya, yang mengembalikan elan dan energi dari masa terbaik yang pernah ada, dan tidak ada kota dan ummat paling terang cahayanya kecuali Madinah al Munawwarah di bawah asuhan Rasulullah sallallahu alayhi wa sallam.

Orang Melayu: “Sesat di ujung jalan, balek ke pangkal jalan“.

Masa depan kita adalah masa lalu. Ini hanya siklus saja. Benda-benda ini, teknologi ini, bukanlah pemimpin kita. Mereka hanya pilihan-pilihan dangkal, sebagaimana seorang nyonya berbelanja barang di swalayan. Dan yang paling sering terjadi adalah, mereka mengambil sesuatu yang tidak mereka perlukan.

Apakah yang paling kita perlukan di zaman ini? Kita perlu cahaya, segera. Bukan pembangkit listrik 20.000 MW. Bukan lampu diskotik. Ini adalah cahaya penuntun, dari lapisan yang paling terang, yang membedakan yang nyata dan sihir, yang menuntun kita mendekat kembali pada sumber-Nya, cahaya yang lembut, tidak seperti api.

Zaman ini sudah gelap gulita, zamannya “manusia terakhir”, dan orang-orang seperti melihat kilat, dan guntur menggelegar, lalu gelap lagi. Dan ikutilah “lelaki yang datang berseru dari arah luar kota itu”. Sesungguhnya dialah yang berkata benar, dan dia tidak meminta upah untuk itu.

Bila kita bersamanya, maka kita akan merintis jalan, membuat setapak, menuju stasiun kita: peradaban baru, new nomos, dien al Haq, dan kemerdekaan yang sebenarnya. Sebab, “kita bukan penyapu jalan” (Shaykh Abdalhaq Bewley). Saat ini tidak ada jalan yang mau disapu atau dibersihkan.

Perjalanan ini sangat menantang dan menggembirakan. Tapi apakah kita dapat melihat moncong meriam seperti melihat Taman?

Waktu masih sedang menyaksikannya.