Muslihat Doktrin HAM dan Toleransi

980

Oleh Shakyh Dr Abdalqadir as Sufi

Tak akan ada yang berubah pada sunataullah. Ada kewajiban  pada setiap komunitas Muslim untuk memiliki  seorang Amir, dan seorang Sultan di atas semua Umat.

Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah, Yang Maha Perkasa.

Tidak akan ada  yang berubah  pada Sunatullah.  Hanya Muslimlah  yang membentuk  jamaah. Tidak ada yang namanya ‘masyarakat internasional’. Hukum internasional adalah ilusi. Lembaga-lembaga internasional tidak memiliki substansi dan realitas. Konstitusi tidak memiliki keadilan atau kekuasaan. Kekuasaan hanyalah  milik Allah. Konstitusi, karena buatan manusia tidak memiliki otoritas dan kebenarannya  tidak ada.  Karena  non-eksistensialitasnya,  ia  hanya akan   menimbulkan  efek yang berkebalikan dari klaimnya. Penyebab yang batil akan menghasilkan efek yang juga batil.

Seseorang  bisa menunjuk orang lain untuk mewakilinya. Otoritas dapat ditransfer secara bebas dari satu orang ke seseorang yang lain. Tapi sekumpulan manusia tidak dapat menunjuk satu orang untuk mewakili mereka, pada gilirannya salah satu  harus menyerahkan otoritas itu  kepada sekelompok orang. Pada gilirannya kelompok tersebut pasti akan menyerahkan kewenangan kolektif ini ke  kelompok inti yang  pada akhirnya akan didominasi oleh salah satu anggotanya saja. Dengan demikian instrumen yang dirancang untuk memberikan keputusan  oleh semua akhirnya menjadi diktat hanya oleh  satu orang.

Kewenangan untuk mengatur merupakan hak dari kelompok  inti  tetapi  bagaimanapun  harus menyerahkan kekuasaan itu pada satu orang. Seorang pemimpin  pendahulu  dapat menunjuk pemimpin berikutnya. Pemimpin bisa menunjuk  sebuah kolega  untuk menunjuk pemimpin masa depan. Pemimpin dapat membuat klaim dan menggenggamnya  melalui  kekuatan dan pengakuan.  Kekuasaan, bagaimanapun, tidak berasal  dari bawah,  tapi  harus datang dari atas.

Shaykh_Abdalqadir_as-SufiKepemimpinan datang dengan Jihad dan juga oleh tekanan dari dalam sendiri. Ketika keduanya hadir  bersama-sama  ia  tak akan terbendung dan diberkahi seperti dalam kasus Khalifah  Mu’awiyya ,  yang oleh Qadhi Abu Bakar dari Granada dikatakan, “Bagi kita  ia   seperti  yang kelima dari Khulafa ar-Rasyidin.”

Manusia tidak memiliki hak. Anak-anak memiliki hak karena mereka tidak bisa mengatur urusan mereka sendiri, sehingga butuh  perlindungan. Namun, mereka juga menuntut hak, karena dalam dunia mereka sendiri tidak ada  kewenangan maupun pemahaman tentang bagaimana sesuatu terjadi.  ‘Hak asasi manusia’ dengan demikian adalah pengelabuan.

Manusia  hanya memiliki kewajiban, perbuatan  yang disukai, perbuatan yang dibenci, perbuatan  yang terlarang dan yang  diizinkan. Apa yang tidak dilarang oleh Allah dan Sunnah, berarti   diizinkan.
Kewajiban-kewajiban  dasar sebuah peradaban yang adil  adalah sebagai berikut:

Kaum dewasa mengkonfirmasikan  ketunggalan Allah dan Kerasulan Muhammad saw . Lima  kali sehari sujud sebagaimana ditetapkan. Sebuah kewajiban  atas  kekayaan tahunan yang akan diambil  oleh  salah satu kolektor resmi yang ditunjuk  oleh seorang  Amir. Sebuah  kewajiban berpuasa dari subuh sampai  senja di bulan Ramadhan. Sekali ziarah ke Rumah Allah dan  padang ‘Arafah  bila mampu  dalam sekali waktu. Sebuah kewajiban lebih lanjut, dengan alasan kondisional, adalah untuk   berjihad  di bawah pemimpin yang sah. Kewajiban ini memiliki keharusan  dan pada gilirannya akan  mengisi pola sosial peradaban baru,  yang selaras dengan Hukum Ilahi.

Kewajiban Masyarakat Muslim

Kewajiban dari kewajiban tersebut adalah sebagai berikut: Masyarakat Islam adalah hamba  mulia Allah SWT. Karena itu mereka terikat untuk saling melindungi dan membela satu sama lain.
Mereka berkewajiban untuk membimbing orang lain kepada kebaikan dan memperingatkan konsekuensi  bila  menolak aturan Allah. Hasil di  Kerajaan Ghaib  nanti adalah  mereka akan ditakdirkan menghuni  Neraka.  Produk dalam kerajaan duniawi adalah perang yang  akan dilakukan atas  mereka sampai mereka mengkonfirmasikan Ketunggalan  Allah.

Sebagai persiapan  atas  dua cara yang mungkin bagi kaum muslimin ini ada  kewajiban lebih lanjut. Mereka dilarang mengambil orang Yahudi dan Kristen sebagai teman mereka karena mereka adalah musuh. Juga karena posisi  intelektual dan spiritual mereka adalah kufur, menutup-nutupi, mereka akan melakukan apa saja untuk menghentikan orang  beriman dalam keyakinan mereka dan keyakinan kepada Allah. Sesungguhnya, Allah telah memperingatkan kita bahwa mereka tidak akan puas hingga mereka menjadikan kita mengikuti transaksi hidup mereka, yang kufur,  menipu  dan munafik.

Dengan demikian ada perbedaan penting antara kaum Muslim dan kafir. Ini bukan soal moral atau psikologis,  melainkan  sosial dan politik. Kita harus menghentikan  diperbudak, dipermalukan, diejek, dan akhirnya dibantai oleh orang-orang yang tanpa keadilan dan tanpa hukum, karena hukum diciptakan manusia sendiri (humanisme),  yang telah kita lihat hasilnya sebagai kebalikan dari klaim mereka. Mereka mengklaim persaudaraan dan melakukan genosida. Mereka mengklaim kebebasan dan memperbudak jutaan  orang dalam penjara dan kamp konsentrasi. Mereka mengklaim kesetaraan dan menempatkan kekayaan dunia di tangan beberapa ratus orang  saja dan memastikan jutaan orang dalam kemiskinan dan kelaparan.

Mereka menyebutnya dengan toleransi,  yang merupakan deklarasi intoleransi mereka  terhadap  kita. Doktrin mereka tentang toleransi adalah intoleransi.

Setiap hukum , setiap perkembangan, kemajuan, moralitas, dan evolusi  yang mereka  klaim terbukti bertentangan hasilnya. Dengan memeluk nihilisme sebagai satu-satunya metode yang  memungkinkan pencurian abadi melalui riba yang mereka  terapkan pada orang lain, harus dilihat bahwa masyarakat kafir  membelok pada  kehancurannya sendiri. Kita  tidak boleh biarkan hal ini,  karena perintah kita datang hanya dari Allah dan Rasul-Nya, salallahu alaihi wasallam.

Oleh karena itu ada kewajiban  pada setiap komunitas Muslim untuk memiliki  seorang Amir, dan seorang Sultan di atas semua Umat.

Itu memerlukan suatu kewajiban berjihad.

Yang memerlukan penerimaan atas fakta dasar bahwa  kaum Muslim adalah  tentara terhadap orang-orang kafir.

Yang memerlukan bahwa  Zakat adalah  pendukung kehidupan yang harus dibayarkan, menuruti  Amal ‘Madinah, dalam Dinar emas dan Dirham perak,   serta kekayaan lain yang diwajibkan zakat atasnya.

Pada gilirannya baik Jihad dan Zakat menentukan kewajiban untuk mengidentifikasi Ahlul  adh-dhimmi sehingga mereka membayar pajak-dhimmi,  jizya,  membebaskan mereka dari zakat dan kewajiban militer, dan meyakinkan mereka  perlindungan agama.

Karena alat bayar zakat adalah Dinar dan Dirham , maka ini pula  mata uang kaum muslimin.

Semua praktek-praktek keuangan dan perdagangan harus  diperbaharui dan direnovasi ,  kembali ke peradaban dari  masyarakat Islam.

Perdagangan memilik aturan-aturan,  yang diproyeksikan dari Madinah dan penting  bagi  pulihnya kesehatan masyarakat setelah ditindas melalalui sistem  monopoli  kafir, billionairisme dan penghapusan perdagangan dan pertukaran oleh kekuatan super-market, jaringan distribusi barang dari satu sumber saja, dan perdagangan lewat  toko-toko, dan bukan pasar terbuka,  yang merupakan  dasar kapitalisme borjuis.

Kewajiban langsung dalam Islam mengenai perdagangan tidak hanya melibatkan penghapusan mata uang kertas dan elektronik tetapi juga lembaga perbankan dan bursa saham, bahkan ketika teleh menyebut  diri  mereka dengan embel-embel “Islam”. Di tempat mereka yang baru, dinamis, fungsi instrumen pertukaran dan kekayaan dapat diciptakan yang tidak mempertentangkan orang  sebagai miliarder dan pengemis.

Pola Otoritas Islam

Islam adalah  pandangan dunia yang memberikan masyarakat  peradaban tinggi, dan dari pandangan dunia ini selanjutnya memberi mereka Jannah, dan pertemuan dengan Tuhan mereka.

Mengikuti Jihad dari kaum Muslim,  yang dikombinasikan dengan  takdir yang tak terelakkan yang sudah turun kepada orang-orang kafir dalam pemenuhan Ayat Ilahi  yang mengumumkan deklarasi perang  oleh Rasul, salallahualaihi wasallam,  dan  itu berarti oleh pasukan Muslim, dan oleh Allah sendiri, adalah untuk kemuliaan-Nya, yang berarti melalui jaringan tak terhindarkan dari peristiwa yang telah ditakdirkan – bahwa elemen-elemen ini semua  akan memusnahkan riba. Hal ini pada gilirannya akan mengalirkan  kekayaan besar emas dunia yang saat  ini  ditimbun, disimpan-simpan di brankas bawah tanah di seluruh dunia,  sementara jutaan orang kelaparan dan empat ratus orang  mengontrolnya sebagai tiran.

Jihad, Jihad yang mulia,  di bawah bendera Nabiuallah SAW itu, akan melawan para pengendali, pemegang dan  penimbun  kekayaan yang harus dikeluarkan sebagian sebagai ghanimah dan kemudian dikenakan khumus, sesuai   aturan Jihad. Dan kemudian  didistribusikan, menuruti aturan Zakat.

Karunia mengalirnya Zakat yang  ditarik  akan menjadi bahan dasar bagi peradaban Islam yang baru.
Pergolakan sosial dan penyemaian kembali yang berlangsung di zaman mendatang akan kembali membangun keadilan dan kasih sayang dari Allah. Ini memiliki kekuatan  membebaskan yang luar biasa, menggantikan legalitas hukum Romawi  kafir yang memalukan , yang tanpa henti pada mulanya direvisi dan dirusak  secara sadis oleh imam selibat kristen dan kemudian oleh modernis Yahudi-sekuler. Ini adalah hukum yang sama yang telah mengutuk ribuan orang tak bersalah mati karena pembunuhan yang semestinya dapat  hidup di bawah kejelasan dan keadilan  Islam, yang sangat memerlukan kesaksian.  Hukuman fisik  langsung, bukti mutlak  atas kesalahan, peradilan tanpa transaksi uang, dan peradilan  oleh legalis, bukan   pendapat mayoritas bodoh  warga, penghapusan hukuman penjara dan penjara itu sendiri, inilah beberapa hasil langsung dari pemulihkan keadilan Tuhan dalam praktek para  hakim yang berkualitas.

Dalam hukum Islam   masyarakat  Muslim menyeru kepada  kema’rufan  dan mencegah kemunkaran. Tidak ada pertanyaan tentang hak-hak minoritas, hukum Allah adalah yang terpenting, tetapi ada hak istimewa bagi minoritas, juga ditentukan dan didefinisikan, baik keselamatan maupun mengamankan dan mencegah subversi atas dominasi Islam.

Pemerintahan dalam Islam adalah pelayanan.  Adalah kekuasaan yang dialokasikan untuk zona pelayanan.

1). Pendidikan hakim dan ulama diawasi oleh Syaikh al-Islam. Dia juga adalah pelindung penerapan hukum, melihat bahwa tidak ada peraturan baru yang bertentangan dengan parameter luas dasar dan hukum yang konstan.

2). Kepala militer secara langsung bertanggung jawab kepada penguasa.

3). Tariqah sufi, yang selalu di bawah Syaikh yang dominan saat itu, meyakinkan mereka bebas dari inovasi yang serius atau fantasi Syiah. Peran ini penting karena tariqah menjadi penyangga baik dengan masyarakat umum maupun anggota Paguyuban produksi (Gilda)  yang kembali dipulihkan, menjamin penghapusan bingkai kapitalis untuk proses produksi.

4). Pemerintahan wilayah  pusat, dan hubungan dengan satelit Amirat-amirat Islam,  semua berada di bawah otoritas koordinasi dari Wazir Utama,  yang berfokus pada eksekusi  otoritas dalam masyarakat.

Semua  lingkaran kekuasaan itu terintegrasi dalam dinamika sosial di sekitar otoritas Sultan-Khalifah. Dia bukan otokrat, atau diktator,  melainkan adalah  hamba Haramain dan penjaga keamanan Muslim. Ia juga bukti nyata dari ridho  Allah dengannya Dienul  Islam.

Kewajibannya adalah sebagai berikut:

Untuk melindungi Haramain dan mengamanan pemeliharaan mereka. Untuk menjamin Haji. Untuk menetapkan waktu salat dua  Ied, dan saat Ramadan. Untuk menjamin pelaksanaan  yang benar dari salah  Jumat. Untuk menjamin berat dan kadar kemurnian Dinar dan Dirham, dan kebenaran dari timbangan dan takaran. Dan, menyatakan Jihad kapan dan di mana diperlukan di Dar al-Islam.

Orang bisa menambahkan kewajiban ini dengan tidak meninggalkan wilayah  luar sepenuhnya stasis, namun untuk  terus  dalam panggilan Islam yang  diarahkan kepada orang-orang kafir  dan yang tidak beradab.

Semua ini adalah hasil  gemilang  dan tak terelakkan dari Islam yang kini hidup yang sudah dalam proses menghancurkan Judeo-sekularisme,  bencana ekologis yang dibawanya,  kerusakan sosialnya, kehancuran kemanusiaan dan  kaum perempuan,  norma-norma perkotaan, pemerkosaan, pembunuhan dan anarki, perzinahannya yang merajalela,   kekejamannya  terhadap anak-anak,  riba yang menggurita, perbudakan dan pemiskinan jutaan orang, perang genosidanya  terhadap Islam, pemerintahannya oleh perbankan  dan oligarki korporasi, mitos demorkasi  yang memperbudak,  dan bergegas mengerikan ke arah  kehancuran diri sendiri.

Restorasi Islam, berarti restorasi  Personal  Rule, Sultaniyya,  dengan batas keadilan, dan penghapusan negara fiskal. Ini adalah akhir bagi ateisme yang telah mengutuk semua pria, wanita dan anak-anak selama dua ratus tahun terakhir ini.

Ini membawa kepada masyarakat  berita gembira dan peringatan. Neraka  adalah realitas di alam ghaib, dan kita telah menyaksikannya  di tangan para kuffar di dunia terlihat ini. Surga  adalah suatu realitas dan orang-orang  yang menjalankan salat, puasa, haji dan zakat , telah merasakan janji  itu di dunia ini.

Kita adalah orang-orang yang bebas  dari takhayul, astrologi dan setan. Kita  beriman pada yang ghaib.

Kita  menyatakan bahwa Allah, Tuhan seluruh alam semesta, adalah Satu, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.  Kita  menyatakan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya, diutus bagi seluruh umat manusia.

Dan dengan keyakinan akan  Keesaan Allah dan finalitas Rasul-Nya  beserta risalahnya itu,  kita mengimani Kitab  lainnya, para Rasul dan Malaikat, Hari Terakhir, Hari Perhitungan Penghakiman, dan Keputusan Takdir.  Dan akhirnya Islam akan unggul atas semua agama lain, seperti yang dijanjikan dalam kitab-Nya, yang  hari ini mengatur dunia, sampai akhir zaman.