Sultaniyya dan Gagalnya Modernisme Islam

1615
Oleh Irawan Santoso Siddiq
Sultaniyya bukanlah firqah. Bukan pula sebuah sekte. Tapi ini sebuah model. Cara kehidupan yang direkomendasi oleh Rasulullah Shallahuallahi Wassalam. Asal katanya tentu dari kata ‘sulthan’. Ini maksudnya pemimpin.
Terminologi pemimpin bukanlah seperti kini. Kaum modernis muslimin telah salah arah dalam melihat bagaimana ‘pemimpin’ dalam Islam. Hingga cenderung untuk mengislamisasi saja bentuk dan pola yang bukan berasal dari Islam. Dalam bahasa lain tentu dari kuffar. Kuffar bentuk jamak dari kafir. Ini terminologi untuk menunjukkan kaum yang “tertutup” hati dan qalbunya. Tertutup dari jalan yang benar. Tertutup dalam memahami bagaimana sejatinya kehidupan di dunia ini –yang bersifat sementara.
Tertutupnya itu dimulai dari perubahan cara berpikir (mindset). Ini sudah berlangsung sejak masa abad pertengahan. tatkala filsafat digunakan kembali untuk menyelidiki ulang tentang Tuhan, manusia, asal usul manusia dan tentang teori sebab akibat. Alhasil ‘kebenaran’ yang telah ada, dalam pondasi Wahyu, diselidiki ulang. Alhasil melahirkan anak kandungnya, berupa sains dan sistem hukum, yang berlandaskan rasio belaka. Berlandas logika atau rasio, yang sama sekali berbeda dengan akal. Dengan puncaknya, Tuhan digeser maknanya sebagai penyebab sekunder. Bukan penyebab primer. Mulai dari Francis Bacon, Rene Descartes, Copernicus, sampai Charles Dharwin, Immanuel Kant,  menelorkan segala teori tentang makna manusia dan Tuhan.
Puncaknya tatkala Voltaire menterjemahkannya sebagai tindakan ketikdatoran Tuhan, yang harus ditolak. Karena Voltaire mengatakan, “Jika Tuhan menghendaki ketundukan manusia secara penuh, maka Tuhan adalah diktator. Segala kedikdatoran haruslah ditolak”. Cara berpikir ini menafikkan bagaimana kehadiran Tuhan sebagai penyebab segala peristiwa di dunia ini. Hingga manusia seolah menolak segala hal yang tak bisa dibuktikan secara empiris. Alhasil segala hal yang ghaib menjadi hilang, dan dikatakan “tak masuk akal”. Segala yang “tak masuk akal” dianggap tak benar. Inilah pergeseran makna kebenaran. Ujungnya, keghaiban menjadi sirna. Tuhan yang ‘ghaib’ pun tak lagi masuk dalam kosakata. Dan satu hal yang penting, iblis atau setan yang berwujud ‘ghaib’, sama seali tak masuk lagi dalam perbendaharaan kosakata kehidupan. Alhasil setan menjadi hilang dan tertawa karena telah berhasil merubah cara berpikir manusia, hingga tak perlu lagi merisaukannya.
Padahal Allah Subhanahuwataala berfirman berkali-kali dalam Al Quran: “… Iblis adalah musuhmu yang nyata…” Karena iblis berniat buruk pada manusia. Iblis berdengki ria pada manusia. Dengki, iri, sampai hasad semuanya bersumber dari sifatnya. Makanya proyek iblis di dunia hanya satu: menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Menyesatkan manusia dari Tuhan. Menyesatkan manusia agar tak lagi mengikuti perintah Allah Subhanahuwatalaa. Dengan merubah cara berpikir, itulah cara ampuh iblis menyesatkan manusia. Hingga melahirkan sistem yang membuat manusia tak lagi percaya pada Allah Subhanahuwataala semata. Itulah yang dalam bidang sosial melahirkan ‘le contract sociale’, bahwa seolah kekuatan utama ada pada manusia. Bukan berada pada kekuasaan Allah Subhanahuwataala. Makanya manusia berhak mengatur sendiri kehidupan, dan aturan hukumnya. Berhak mengadili dengan cara sendiri, ala manusia, tanpa lagi merujuk kitab suci. Ini adalah kemenangan dari iblis, yang telah menyesatkan manusia. Makanya manusia yang mengikutinya disebut kuffur, karena telah tertutup hati dan qalbunya akan jalan kebenaran yang nyata.
Islam adalah jalan kebenaran. Al Quran menjadi satu-satunya guidance agar muslimin selamat dari godaan iblis di dunia, dan sukses kembali ke surga. Rasulullah Shallahuallaihi Wasallam diutus untuk memberikan juklak dalam pelaksanaan Al Quran. Itulah yang disebut Sunnah. Kaum muslimin dari masa Sahabat sampai era abad 18, terus melaksanakan model seperti yang diajarkan Rasulullah. Model itulah yang disebut sultaniyya. Model kepemimpinan, dengan pondasi syariat dan hakekat bersatu: seperti yang disampaikan dalam Al Quran. Karena syariat dan hakekat merupakan pembagian dari Al Quran, untuk mempermudah muslimin dalam mendalami dan mengamalkannya.
Namun hampir 4 abad lebih muslimin berada dalam keterpurukan sepanjang sejarah. Inilah masa terberat bagi umat Muhammad Shallahuallaihi Wassalam. Muslimin terbelah dalam beragam firqah. Terlebih ini bisa tergambar pasca modernisme melejit. Tatkala Revolusi Perancis meletus, 1780, disitulah kemenangan kaum rasio membahana. Konstitusi mencampakkan kitab suci. Demokrasi jadi ajang untuk tirani. Karena demokrasi, konstitusi, republik (palsu), jadi ajang para bankir untuk melanggengkan kekuasaannya –yang tak ber-nama atau ber-istilah–. Inilah bentuk kepemimpinan yang tak adil. Karena tak ada security dan liberty. Shaykh Abdal qadir as sufi dalam kitabnya yang kesohor, The Entire City, mengatakan, sebuah kepemimpian yang adil ialah yang menjamin adanya security dan liberty bagi kaumnya. Ini yang tak tercuat dalam sistematika sistem politik kini.
Demokrasi hanya alat para bankir. Republik, hanya nama yang digunakan –yang berbeda konsepnya dengan res publica semestinya–. Konstitusi jadi ajang untuk melegalkan segala tindakan kriminal para bankir. Inilah bentuk penindasan seantero dunia, yang tak dipahami umat manusia kini.
Sementara kaum muslimin, pasca modernisme, mengalami penurunan. Kesultanan Utsmaniyah melemah, akibat serbuan doktrin filsafat dan jamak muslimin terperangah dengan “kemajuan” semu barat. Alhasil muncul bentuk Islam baru: Islam modernis. Ini yang digambarkan Rasulullah Shallahuallahi Wassalam dalam Hadistnya.
Dari ’Abdurrahman bin Jubair bin Nafir dari ayahnya, dari ’Auf bin Malik al-Asyja’i r.a., dia bercerita, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تفترق أمتي على ثلاثة وسبعين فرقة أعظمها فتنة على أمتي الذين يقيسون الأمور برأيهم يحرمون الحلال ويحللون الحرام.
”Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok. Satu kelompok yang paling besar fitnahnya bagi umatku adalah kelompok yang menganalogikan (mengqiyaskan) semua permasalahan dengan pendapat mereka, mengharamkan yang halal, menghalalkan yang haram.”
Dari Hadist ini bisa tergambar utuh bagaimana wujud kaum modernis Islam. Mereka yang berupaya mengejar dan mengimbangi semua kelakuan kuffar. Ini yang disebut Shaykh Abdalqadir as sufi, sebagai kaum yang bermimpi duduk satu meja dengan kuffar. Padahal Islam dibekali Al Quran, yang artinya Furqon, Pembeda. Tentu antara yang haq dan bathil tak bisa disatukan. Sementara modernis Islam memaksa bahwa semua atribut dalam kuffar, bisa diislamisasi, Inilah yang memaksa muslimin harus menang dalam pemilu demokrasi, punya konstitusi Islam, negara Islam, sampai bank Islam. Ini bentuk qiyas atas segala dalil yang digunakan. Tepatnya bukan dalil. Tapi dalih, agar bisa mengikuti kuffar.
Hampir 4 abad kemunculan modernis Islam, justru tak membuat kemenangan pada muslimin. Tak menjadikan kembalinya Utsmaniyah, Abbasiyah atau pun kejayaan Andalusia. Justru membuat muslimin makin merana dimana-mana. Ini bentuk dan indikasi bahwa cara modernisme Islam ialah jalan kegagalan. Itulah jalan kejumudan Islam. Karena mereka menolak syariat dijalankan dengan benar. Menolak mahdhab, dan berupaya mengislamisasi segala atribut kuffar.
Inilah masa yang sulit, sekaligus memudahkan untuk kembali ke jalan yang benar. Dalam sebuah Hadist,
Dari ’Abdullah bin Zaid, dari ’Abdullah bin ’Amr radliyallahu ‘anhu. Dia berkata bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن بني إسرائيل إفترقوا على إحدى  وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة. وستفترق أمتي على ثلاثة وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة. قالوا
وما تلك الواحدة؟  قال رسول الله من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي.[15]
Artinya: Sesungguhnya Bani Israel terpecah sebanyak 71 kelompok yang semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok. Dan umatku juga akan terpecah menjadi 73 kelompok yang semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok”. Para shahabat bertanya: ”Kelompok apa itu?” Rasulullah menjawab:”Kelompok yang mengikutiku dan para sahabatku.”
Dari Hadist ini ada sebuah kata kunci. Kelompok yang benar ialah yang kembali mengikuti Rasulullah dan para Sahabat. Dalam Hadist lain, disebut yang kembali ke era Minhaj an Nubuwah di era Khulafaur Rasyidin. Masa Kenabian yang berlangsung di tunjukkan masa Sahabat. Itula masa Khulafaur Rasyidin. Inilah kata kunci agar umat muslimin bisa kembali pada guidance dalam penerapan Al Quran secara benar. Sekaligus menanggalkan pola berlandaskan rasio alias logos yang menjadi pondasi utama kekuatan sistem kapitalisme dan rechtstaat ini.
Dalam sebuah Hadist, Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam menggaransi tiga generasi awal sebagai generasi terbaik dalam Islam. Masa Sahabat, Tabiin, Tabiit Tabiin. Inilah modul dalam ber-Islam. Inilah panduan dalam penerapan Islam, sampai kapanpun dan dimanapun. Karena penerapan di masa tiga generasi awal itulah yang dianggap terbaik dalam pelaksanaan Islam. Tentu muslimin era kini, di abad 21, harus kembali merujuk pada masa tiga generasi awal itu untuk penerapan Islam. Dan tiga generasi awal itu dimulai dari masa Sahabat. Masa Shabat dimulai dari wafatnya Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam dan Khalifah Abu Bakar as Shiddiq dibaiat menjadi Khalifah. Inilah sultaniyya. Kepemimpinan dalam Islam. Bukan merujuk demokrasi, yang menjadi alat para bankir.
Sultaniyya itulah jalan kembali. Masa Sahabat mereka mulai dengan pengangkatan AMR Islam. Ini merujuk lagi Al Quran Surat An Nisa 59. “Watiullah attiurasullah wa ulil amri minkum.” Pemimpin diantara kamu, bukan bermakna pemimpin dalam alam demokrasi. Ini yang ditunjukkan masa Sahabat. Mereka tiga hari membantarkan jenazah Rasulullah, dan mendahulukan dalam pengurusan “Ulil Amri Minkum”. Masa itu, tentu ada pemimpin Romai dan Persia. Tapi muslimin menunjuk sendiri kepemimpinannya. Karena tugas pemimpin itulah yang berwenang untuk menarik Zakat kaum muslimin.
Penarikan Zakat hanya domain Ulil Amri Minkum. Karena Zakat itulah kewajiban yang harus ditunaikan muslimin, yang terkena nishab dan haul, dalam zakat mal (harta). Penariknya ialah Ulil  Amri Minkum. Perintah ini ada dalam Al Quran Surat At Taubah 104. Kata “Kudz” artinya “ambillah” ataulah “tariklah” Zakat. Bermakna otorisasi Allah Subhanahuwataala pada pemimpin kaum muslimin untuk menarik Zakat muslimin. Dan tentu berimplikasi pada penarikan jizya pada kaum kuffar. Ini yang disebut istihsan.
Inilah modul untuk kembali penerapan sultaniyya. Model kehidupan Islam. Shaykh Abdalqadir as sufi mengatakan, “Shalat dilaksanakan, namun demikian, hanya lewat  restorasi Zakat, kerajaan Pangeran akan, dan hanya dapat, ditegakkan. Zakat adalah fondasi bagi Pemerintahan tanpa riba.Zakat adalah segel bagi dihapuskannya sistem musyrik, yang disebut kapitalisme. Dari penegakkan zakat akan muncul Dinar Emas, Dirham Perak, perdagangan yang adil tanpa adanya tambahan yang dilarang dalam transaksi.” (The Muslim Prince).
Dari Zakat akan melahirkan alat tukar fitrah: Dinar Dirham. Karena Zakat tak bisa ditunaikan dengan uang kertas produk bankir, yang merusak fitrah kehidupan manusia. Karena uang kertas itulah alat bankir mengkooptasi sistematika kini. Mereka memperalat demokrasi, mengklaim republik dan menggunakan konstitusi sebagai legalisasi uang kertas. Alhasil muncul strata: pekerja dan majikan. Tak ada futtuwa. Karena pondasi futtuwa ini menjadi elemen penting dalam kembalinya Islam. Futtuwa itulah alat untuk menghancurkan kesyirikan yang kini menjamur. Antitesa futtuwa ialah profesionalitas. Manusia kini dituntut untuk mengabdi pada satu hal  “profesionalitas”, bukan kepada Allah Subhanahuwataala. Tapi pada profesi. Dengan profesi berarti harus memiliki status pekerjaan. Pekerjaan berarti merujuk pada coorpotarion. Inilah bentuk perkoelian jamaah. Karena stratanya hanya ada majikan dan buruh. Dan dari strata itu, para bankir kerap menjadi pemenang. Karena mereka terus berada pada posisi majikan. Yang lainnya buruh, walaupun cooporation besar. Karena bankir menggunakan sistem yang membuat mereka tak pernah kalah: uang kertas dan banking system. Ini pondasi ketidakadilan.
Karenanya jalan kembali penerapan Islam dimulai dengan penerapan Zakat. Membawa muslimin kembali pada zona Zakat, yang lebih utama. Sebelum kepada zona Dinar Dirham. Karena dengan Zakat otomatis akan terbawa pada zona Dinar Dirham, muamalah hingga penerapan pasar-pasar Islam. Tentu dari situ pendistribusian Dinar Dirham banyak-banyak, apalagi pencetakannya massal, belum diperlukan. Karena tujuannya adalah membali kembali pada AMR Islam. Bukan mengganti currency Dollar dengan Dinar Dirham. Apalagi menjadi sebuah ajang bak ‘club’ para penggemar dan kolektor.
Modal pencetakan Dinar Dirham bisa sepenuhnya didapat dari Zakat yang dipungut. Bukan dari sebuah bentuk perkumpulan. Maka, dengan membawa kembali muslimin pada penerapan Zakat, sebagai hal yang wajib, disitulah AMR akan tegak dan syariat lainnya akan bisa dijalankan, dengan perlahan. Inilah bentuk perwujudan sultaniyya, bak masa Khulafaur Rasyidin. Karena disitu Khalifah Abu Bakar telah menunjukkan pentingnya penerapan rukun Zakat. Sampai beliau memerangi kaum muslimin, yang melaksanakan sholat dan puasa, tapi tak bersedia ditarik Zakatnya oleh Khalifah Abu Bakar.
Inilah pentingnya Zakat kembali. Shaykh Abdalqadir as sufi telah mengingatkan untuk pentingnya merestorasi Zakat dan kehidupan Islam melalui itu. Bukan pada penerapan pencetakan Dinar Dirham atau bagaimana agar keduanya bisa dijalankan, walau dalam sistem apapun. Karena Dinar Dirham sarangnya adalah pada AMR Islam. Bukan harus diterapkan pada sistematika model sistem kuffar, walau sebuah provinsi, Gubernur ataupun sebuah Presiden akan menerapkannya. Bukan itu sasaran dari penrapan DnD. Inilah arah dan tujuan yang menunjukkan bagaimana rule of Islam. Kita tak memerlukan Dinar Dirham agar bisa dijalankan demi mengimbangi Dollar atau Euro. Kita tak memerlukan agar sebuah Provinsi atau Kepala Daerah mencetak dan melegalkan penerapan Dinar Dirham. Apalagi sebuah ormas untuk mencetaknya. Karena hal itu tak akan merubah apapun, selain hanya bertujuan merubah currency belaka. Tapi lebih utama agar AMR Islam berjalan dan sultaniyya kembali. Itulah tujuannya merujuk pada Khilafah Minhaj an Nubuwah.
Shaykh Abdalqadir as sufi telah mengatakan, “untuk membuka fase pasca-psikosis – bahwa kita sebagai Sufi memperkenalkan dinar emas dan dirham perak.” Inilah senjata kaum sufi untuk kembali mengajak muslimin menerapkan syariat. Dari penerapan Zakat itulah sultaniyya bisa dijalankan. Syariat akan kembali. Karena dengan Zakat, memerlukan AMR. Dari Zakat, dibutuhkan Dinar Dirham. Dari Zakat, para fakir miskin akan terpelihara dan harta kaun kaya akan tersucikan. Inilah futuwwa.
Shaykh Abdalqadir as sufi, dalam The Entire City, telah mengajak agar muslimin kembali pada futuwwa. Yang ternyata ini juga telah ada dalam DNA kaum eropa. Karena futuwwa pernah diterapkan dan diperkenalkan kaum Romawi, masa Brutus sampai Julius Caesar. Itulah masa Res Publica yang benar. Masa res publica (urusan umum),  yang kepemimpinan berada dalam personal rule. Masa tatkala Romawi, sebelum datangnya Isa Allaihi Salam, menerapkan personal rule dan futuwwa dalam arti lain: Virtue. Ini dalam bahasa Latin. Jika diterjemahkan artinya: “kebajikan”. Inilah futuwwa yang pernah ada dalam belantara Eropa, jauh sebelum masa kegelapan dan rasio melanda kaum Eropa.
Dari virtue itulah penerapan personal rule: liberty dan security setiap orang terjamin. Itulah yang ada dalam Romawi dan terbangun dalam sultaniyya. Futuwwa atau Virtue. Insha Alllah.
Cape Town, 27 April 2018