Dinar, Dirham & Fulus

 

Dalam fiqih Dinar Emas dan Dirham Perak dikenal sebagai mata uang syariah atau koin-koin syariah. Dengan keduanya ditetapkan berbagai ketentuan tentang harga, nilai, berat dan timbangan, yang berada dalam wilayah syariat Islam, yang terkait dengan nisab zakat, mahar, diyat dan hudud.

Dinar emas adalah koin emas dengan berat 4.25 gr berkadar 22 Karat. Dirham perak adalah koin perak murni (99.95%) seberat 2.975 gr. Standar Dinar dan Dirham ini mengikuti ketentuan dari Rasul SAW yang kemudian ditetapkan oleh Khalifah Umar ibn Khattab. Khalifah Umar ibn Khattab menentukan standar antar keduanya berdasarkan beratnya masing-masing: “7 dinar harus setara dengan 10 dirham.” Dari ketentuan inilah, dan didasarkan kepada temuan bukti koin Dinar awal yang masih utuh ditemukan, di zaman modern kita mendapatkan berat Dinar emas 4.25 gr, dan Dirham eprak seberat 2.975 gr. Dinar emas pertama kali dicetak oleh Khalifah Abalmalik ibn Marwan pada tahun 74 atau 75 Hijriyah.

Fulus adalah koin yang terbuat dari berbagai bahan lain selain emas dan perak, yang paling lazim adalah tembaga atau perunggu. Namun, berbeda dengan Dinar dan Dirham, Fuluas bukan uang syariah, tidak dapat dipakai sebagai nisab ataupun alat membayar zakat. Fulus hanya digunakan secara terbatas untuk transaksi kecil. Nilainya pun tidak mengikuti nilai intrinsiknya tetapi dikaitkan dengan koin Dirham perak. Setiap 1 Dirham perak setara dengan 100 Fulus.

Keterangan yang terinci mengenai Dinar, Dirham dan Fulus dapat diperoleh, antara lain, dalam buku Euforia Emas karya Ir Zaim Saidi, MPA (Pusataka Adina, 2013). Buku ini dapat diunduh di situs www.zaimsaidi.com.

Dinar dan Dirham yang beredar hari ini ada dalam beberapa satuan:

Dirham

  • 1/6 (daniq) Dirham
  • ½ (nisfu) Dirham
  • 1 Dirham
  • 2 Dirham
  • 5 Dirham

Dinar

  • ½ (nisfu) Dinar
  • 1 Dinar
  • 2 Dinar

Perlu diketahui di beberapa negeri juga beredar Dirham dan Dirnar dalam satuan lain, seperti 10 Dirham, 20 Dirham, serta 10 Dinar.

Pencetakan dan pemberlakukan satuan Dirham dan Dinar yang berbeda-bedai ini tergantung kepada kebijakan Amirat atau Kesultanan yang menerbitkannya. Setiap Amirat atau Kesultanan memiliki otoritas otonom dalam menetapkan koin-koin yang bisa diperlakukan atau tidak, dengan alasan tertentu masing-masing. Antaramirat atau antarkesultanan dapat saling bersepakat dalam menerima Dinar dan Dirham masing-masing.